PKM Unilak Lolos Pendanaan dari Kemendikbudristek
PKM Unilak raih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemendikbudristek 2026 melalui inovasi teknologi untuk mendukung literasi siswa tunarungu.
Dua mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Unilak yakni Habibi
Ramadhan dan Ivan Jualiano Wowor berkolaborasi untuk meningkatkan kepedulian
sosial yang diharapkan juga dapat berdampak pada masyarakat.
Melalui gagasan tersebut, keduanya berhasil lolos pendanaan
Program Kreativitas Mahasiswa Kemendikbudristek tahun 2026. Sebelum lanjut,
kamu tahu tidak....
PKM merupakan salah satu program unggulan yang diselenggarakan
oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi
(Kemendikbudristek). Tujuannya ialah mendorong mahasiswa menghasilkan
inovasi, penelitian, maupun solusi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi
masyarakat.
Program ini merupakan program yang dinantikan oleh ribuan
mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia setiap tahun.
PKM yang baik seperti apa?
Proposal yang baik salah satunya adalah proposal pengembangan
dan berisi ide kreatif mahasiswa dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta
berpotensi memberikan manfaat nyata dalam dunia pendidikan.
Lalu apa pengembangan yang dilakukan oleh Habibi & Ivan?
Inovasi dilakukan dengan menggabungkan teknologi Augmented
Reality (AR) dan sistem pemantauan berbasis Cloud. Proyek tersebut
berfokus pada pemanfaatan teknologi Augmented Reality (AR) dan Sistem
Pemantauan berbasis Cloud untuk membantu meningkatkan kemampuan literasi dan
pembelajaran siswa berkebutuhan khusus, khususnya tunarungu.
Tim yang diketuai Habibi ini mengusung proyek berjudul
“Akselerasi Literasi Kognitif Siswa Tunarungu Melalui Ekosistem Realitas
Tertambah dan Sistem Pemantauan Cloud Terintegrasi”. Keberhasilan 2
mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Unilak ini menjadi capaian yang membanggakan
sekaligus menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan ide kreatif yang
mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Kenapa mengangkat tema ini?
Pemilihan tema tersebut bukan tanpa alasan, siswa tunarungu
memiliki tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran karena keterbatasan
dalam menerima informasi secara verbal.
Meskipun berbagai metode pembelajaran telah diterapkan,
kebutuhan akan media belajar yang lebih interaktif dan mudah dipahami agar
proses pembelajaran berjalan secara optimal dalam bentuk 3d
models. Melalui inovasi yang dikembangkan, mahasiswa berupaya menghadirkan
sebuah ekosistem pembelajaran yang mampu mendukung peningkatan kemampuan literasi
kognitif siswa tunarungu. Sistem tersebut dirancang agar siswa dapat memahami
digital content dan materi pembelajaran dengan pendekatan visual yang lebih
interaktif dibandingkan metode konvensional.
Dalam dunia pendidikan inklusif, pemanfaatan teknologi menjadi
salah satu solusi sebagai digital information untuk membantu peserta didik
berkebutuhan khusus memperoleh user experience yang lebih baik. Teknologi mampu
menjembatani berbagai keterbatasan yang ada serta menciptakan pengalaman
belajar yang lebih menarik dan efektif.
Sebelum itu, kamu tahu tidak....
Augmented Reality (AR) itu apa?
Teknologi AR memungkinkan objek virtual ditampilkan ke dunia
nyata melalui perangkat digital, sehingga pengguna dapat melihat dan
berinteraksi dengan materi pembelajaran yang lebih menarik. Materi yang
sebelumnya hanya disajikan dalam bentuk teks atau gambar dua dimensi dapat
diubah menjadi visualisasi tiga dimensi yang lebih mudah dipahami.
Peran projek ini terhadap guru dan orang tua?
Bagi siswa tunarungu, pendekatan visual memiliki peran yang
sangat penting dalam proses belajar. Dengan bantuan teknologi AR, berbagai
konsep pembelajaran dapat ditampilkan secara lebih konkret sehingga membantu
meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan.
Selain itu, penggunaan teknologi interaktif juga dapat
meningkatkan minat belajar dan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran
berlangsung. Proyek ini juga berintegrasi pada sistem pemantauan berbasis
cloud yang memungkinkan data pembelajaran tersimpan secara terpusat dan
dapat diakses dengan mudah oleh guru ataupun orang tua.
Sistem ini dirancang untuk memantau perkembangan siswa secara
berkelanjutan sehingga proses evaluasi dapat dilakukan secara lebih
efektif. Melalui sistem berbasis cloud tersebut, guru dapat melihat
perkembangan kemampuan siswa berdasarkan aktivitas pembelajaran yang telah
dilakukan.
Data yang tersimpan dapat menjadi bahan evaluasi untuk
menentukan strategi pembelajaran yang paling sesuai dengan kebutuhan
masing-masing siswa.
Sementara itu orang tua juga dapat mengetahui perkembangan
belajar anak secara lebih mudah tanpa harus menunggu laporan berkala dari
sekolah.
Kenapa harus Augmented Reality (AR)?
Integrasi antara teknologi Augmented Reality dan sistem cloud
menjadi keunggulan utama dari inovasi yang dikembangkan mahasiswa Unilak.
Kedua teknologi tersebut saling melengkapi dalam menciptakan ekosistem
pembelajaran yang tidak hanya interaktif, tetapi juga terukur dan
berkelanjutan.
Pengembangan inovasi pendidikan seperti ini sejalan dengan upaya
peningkatan kualitas pendidikan inklusif di Indonesia. Pendidikan inklusif
bertujuan memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh peserta didik untuk
memperoleh pendidikan yang berkualitas, termasuk bagi mereka yang memiliki
kebutuhan khusus.
Oleh karena itu, kehadiran teknologi yang mampu mendukung proses
pembelajaran menjadi sangat penting dalam mewujudkan lingkungan pendidikan
inklusif yang sejalan dengan tujuan dari Universitas Lancang Kuning.
Apa tanggapan fakultas?
Dekan Fakultas Ilmu Komputer Unilak, Yogi Yunefri, menyampaikan
apresiasi atas capaian mahasiswa yang berhasil lolos pendanaan PKM tahun
2026.
“Kami mengapresiasi capaian mahasiswa Fasilkom Unilak yang
berhasil lolos PKM 2026. Ini membuktikan kolaborasi antara teknologi dan
kepedulian sosial mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat” ujar Dekan
Fasilkom di Pekanbaru.
Menurut beliau, keberhasilan tersebut menjadi bukti komitmen
fasilkom Unilak dalam mendukung pengembangan riset dan inovasi berbasis
teknologi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Tidak hanya itu, fakultas terus mendorong mahasiswa untuk
menghasilkan karya yang unggul dan juga mampu memberikan kontribusi nyata
terhadap penyelesaian berbagai permasalahan sosial.
Dekan Fasilkom menilai bahwa keberhasilan mahasiswa pasti
mengalami proses panjang yang telah dilalui mulai dari identifikasi masalah,
penyusunan gagasan, perancangan solusi hingga penyusunan proposal yang
kompetitif.
Seluruh proses menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan
riset, inovasi dan problem solving yang dibutuhkan untuk masa depan mahasiswa.
Beliau turut berharap inovasi yang dikembangkan mahasiswa dapat
terus disempurnakan sehingga memberikan manfaat lebih luas di bidang pendidikan
inklusif. Teknologi yang dikembangkan mahasiswa memiliki potensi yang
melayani tidak hanya siswa tapi juga bagi mahasiswa berkebutuhan khusus.
Apresiasi juga tidak ketinggalan diberikan kepada dosen
pembimbing yang mendampingi mahasiswa dalam proses penyusunan hingga pengajuan
proposal PKM.
Peran dosen dinilai sangat penting dalam memberikan arahan dan
masukan sehingga ide yang dikembangkan dapat disusun menjadi proposal yang
ready dan memiliki nilai inovasi yang kuat.
“Peluang pendanaan seperti ini harus dimanfaatkan mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, dan kemampuan riset yang berkualitas,” katanya.
Harapan untuk
mahasiswa ?
Selain itu, capaian tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi
mahasiswa lainnya untuk aktif mengikuti program pendanaan dan pengembangan
riset dari pemerintah. Kesempatan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai wadah
untuk mengembangkan kreativitas, pengalaman penelitian serta memperluas dampak
positif yang dapat diberikan kepada masyarakat.
Melalui pemanfaatan teknologi yang tepat guna, mahasiswa Unilak
berupaya menghadirkan solusi yang mampu menjawab tantangan pendidikan inklusif
di Indonesia. Inovasi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kemampuan
literasi siswa berkebutuhan khusus sekaligus memberikan pengalaman belajar yang
lebih menarik, interaktif, dan efektif.
Capaian ini sekaligus memperkuat komitmen Universitas Lancang
Kuning dalam mendorong lahirnya inovasi-inovasi yang memberikan
manfaat bagi masyarakat.
Dukungan dari berbagai pihak yang telah berkembang diharapkan
dapat terus menjadi kontribusi nyata dalam menciptakan pendidikan yang lebih
inklusif, adaptif dan berkelanjutan di masa depan.