Prestasi Mahasiswa

Melihat Lebih Dekat Karya Mahasiswa Arsitektur Unilak Juara I Lomba Arsitektur Bertema Kebencanaan

Penulis: humas • 2025-10-15 05:40:33 • 808 kali dibaca
Mode Kilat (AMP)
Melihat Lebih Dekat Karya Mahasiswa Arsitektur Unilak Juara I Lomba Arsitektur Bertema Kebencanaan

Unilak Riau - Mahasiswa Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Lancang Kuning (Unilak) berhasil menjadi juara satu lomba arsitektur yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Arsitektur Universitas Sam Ratulangi Sulawesi Utara yang bertemakan Rapid Post Disaster Relief Shelter.

Mereka adalah Syahid Alshadiq Rizal dan Augie Darrell Lee dengan dosen pembimbing Dr Yose Rizal ST MT, lomba berkonsep kebencanaan yang diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi bergengsi se Indonesia. Konsep karya dua mahasiswa Arsitektur Unilak mampu memukau mata  6 juri yang menilai puluhan karya yang masuk ke panitia. Para juri merupakan pakar di bidangnya mulai dari kalangan profesional, akademisi, praktisi dan lain lain. 6 juri yaitu Prof Dr Ir Ar Jefry I Kandengan, Ar Deny Setiawan IAI, Ar Yani Legoh IAI, Ir Ar Alvine Jance ST MT, Mario Kaleseran, Ar J R Deny Rorie ST MT IAI.

Syahid yang dihubungi, Sabtu 26 Oktober 2024, mengatakan bersyukur dapat bisa menang menjadi juara 1 Arsitektur berkonsep kebencanaan. Alahmdulillah  bisa menang, pada konsep ini kami dibimbing oleh Pak Yose, dan ga menyangka menang. Penilaian 5 besar untuk menentukan juara satu berlangsung secara online/zoom, jadi para peserta 5 besar dapat melihat langsung proses pengumuman.

Disebutkannya, dalam kompetisi itu panitia mengusung tentang kebencanaan. Sayembara ini tentang shelter untuk korban bencana alam Gunung Ruang di Sulawesi Utara, untuk lokasi pengungsian berada di Bitung. Sebagaiman diketahui gunung meletus pada April 2024.

"Awalnya yang ada pada benak kami itu adalah bagaimana cara membuat sebuah shelter yang dapat menghemat ruang semaksimal mungkin dalam pengiriman/perjalanan menuju kawasan pengungsian, bagaimana sebuah shelter itu gampang dan cepat dalam perakitannya, bagaimana sebuah shelter itu memiliki kenyamanan yang optimal dalam penggunaannya, dan kami berupaya bagaimana supaya shelter itu tidak terasa seperti shelter, maksud disini adalah pengungsi masih dapat pengalaman ruang yang lebih baik dibanding shelter" yang biasa ada pada kamp pengungsian seperti yang biasa kita lihat ketika terjadi bencana. Pertanyaan itu kemudian membekas di dalam benak." ujar Syahid.

Langkah selanjutnya kemudian eksplorasi dilakukan, kami menemukan dasar geometri yang hemat dalam penggunaan materialnya dibanding segi empat, yaitu segitiga. Pada konsep segitiga karena dinding juga langsung menjadi atap, sehingga air hujan langsung turun dan bila ada abu vulkanik, tidak mengendap dan membebani struktur. Maka segitiga menjadi intensi pertama untuk bentuk dasar sebuah shelter pengungsian ini.

Syahid menjabarkan, kemudian kami meningkatkan fitur" shelter, seperti adanya rainwater harvesting (penangkapan air hujan untuk kebutuhan MCK), bidang" shelter yang dapat berubah menjadi furnitur dengan sistem lipat dan gantung (build-in), digunakan ketika dibutuhkan (meja dapur dan tempat duduk) hal ini dilakukan untuk mempermudah pengungsi, agar pengungsi tidak repot dengan adanya furnitur tambahan yang memakan ruang lebih dan tetap dapat memasak didalam shelter (tanpa harus khawatir dari uap masakan yang mengumpul dalam shelter), terdapat bidang shelter yang bisa dibuka tutup sehingga dapat terjadinya sirkulasi silang dan shelter tidak terasa pengap, ruang" yang sangat fleksibel sehingga dapat digunakan sesuai waktu, contoh seperti jika pagi-sore, penutup shelter yang menggunakan bahan terpal membran dapat digulung sehingga ruang tersebut dapat menjadi sebuah tempat makan, duduk, kegiatan belajar, dan dapat meningkatkan interaksi sosial antar tetangga shelter tanpa harus keluar dari shelter itu sendiri dan pada malam hari ketika ditutup dapat menjadi tempat tidur. 

"Shelter ini menggunakan sistem modular pada rangka dan penutup dinding yang terpisah. lalu pada modul toilet/kamar mandi terdapat bidang dinding yang dapat dibuka sehingga dapat menangkap air hujan, lalu untuk pembuangannya menggunakan portable biotank dengan sistem 5 tahap mikroba dengan ini dapat dipenuhi sistem sanitasi yang sehat." jelas Syahid.

Pada sayembara ini, pendekatan desain shelter pengungsian kami berfokus pada beberapa tantangan: mengoptimalkan penggunaan ruang selama pengiriman ke lokasi pengungsian di Bitung, memastikan perakitan yang cepat dan sederhana, serta memberikan tingkat kenyamanan yang lebih baik bagi penghuninya. Tujuan kami adalah menciptakan shelter yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal sementara, tetapi juga menawarkan pengalaman ruang yang lebih bermartabat dan fungsional dibandingkan dengan kamp pengungsian pada umumnya.

Eksplorasi kami mengarahkan pada penggunaan geometri segitiga sebagai elemen desain utama. Bentuk ini dipilih karena efisiensi penggunaan materialnya dibandingkan dengan bentuk persegi. Dinding shelter sekaligus berfungsi sebagai atap, sehingga air hujan dan abu vulkanik dapat langsung mengalir turun tanpa membebani struktur. Segitiga kemudian menjadi dasar desain shelter kami.

Untuk mengoptimalkan konsep segitiga, pada desain kami juga menambahkan fitur-fitur utama pada shelter ini; Pertama, sistem Penangkapan Air Hujan. shelter dilengkapi dengan sistem penangkapan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air dasar seperti MCK, sehingga mengurangi ketergantungan pada sumber air eksternal; Kedua, Furnitur Fleksibel dan Built-in*. Elemen interior shelter dirancang multifungsi dengan sistem lipat dan gantung. Meja, kursi, dan meja dapur dapat digunakan hanya saat dibutuhkan, mengurangi penggunaan ruang. Hal ini memungkinkan kegiatan memasak di dalam shelter tanpa khawatir akan uap yang menumpuk.

Ketiga sirkulasi udara dan kenyamanan. Beberapa panel shelter dapat dibuka dan ditutup untuk memungkinkan sirkulasi udara silang, mencegah ruangan terasa pengap. Di siang hari, dinding membran terpal shelter dapat digulung untuk menciptakan ruang komunal terbuka yang mendorong interaksi sosial dan penggunaan yang fleksibel. Pada malam hari, panel ini dapat ditutup untuk menciptakan ruang tidur yang aman; Ke empat, Konstruksi Modular. Shelter menggunakan sistem rangka modular dengan panel dinding terpisah, sehingga memudahkan pengiriman dan perakitan. Modul toilet dilengkapi dengan dinding yang dapat dibuka untuk menangkap air hujan dan menggunakan biotank portabel dengan sistem mikroba lima tahap untuk memastikan lingkungan sanitasi yang sehat.

" Dengan mengintegrasikan fitur-fitur ini, shelter kami tidak hanya menyediakan perlindungan tetapi juga ruang yang fleksibel dan nyaman yang mempromosikan interaksi sosial dan kesejahteraan bagi keluarga yang terdampak. Awalnya kami ingin menggunakan material lokalitas seperti kayu/bahan organik lainnya, tetapi karena alasan bahan organik yang tidak tahan lama, maka material yang digunakan adalah material konstruksi bangunan ringan yang biasa digunakan sehingga shelter bersifat re-usesable. dapat digunakan lagi untuk pengungsian bencana alam lainnya kedepannya" tutup Syahid.