FIA Unilak - SMA Setia Dharma Pekanbaru, Peduli Pekanbaru
Unilak Riau - Bersempena dengan Peringatan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Tahun 2025, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Lancang Kuning Pekanbaru melaksanakan pengabdian Masyarakat di SMA Setia Dharma Kota Pekanbaru, Kamis (11/12). Kegiatan dibuka oleh Kepala Sekolah, Rina Juita, S.Pd dan diikuti oleh sejumlah siswa dari kelas 1,2 dan 3. Selain itu turut hadir dari kalangan guru seperti Mulyani Savithri, S.Pd, Diana Novita, S.Pd.I dan Heni Suryani, S.Sos. Tim dari FIA UNILAK terdiri atas Surya Dailiati, Hernimawati, Tesya Aulia Balqis dan Sudaryanto.
Kekerasan terhadap perempuan masih terjadi hingga saat ini, sebagaimana informasi yang berkembang di media cetak, elektronik dan media sosial. Data di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI (Kemen PPPA) menunjukkan hal tersebut, baik di kota-kota maupun di daerah. Oleh karena itu semua pihak perlu memahami, mengantisipasi, berhenti, mengatasi berbagai tindak kekerasan terhadap Perempuan.
“Kasus kekerasan terhadap perempuan masih terjadi di berbagai kalangan pelajar atau siswa-siswi khususnya SMA. Kita tidak boleh berhenti untuk peduli terhadpa kaum Perempuan, makanya kita coba memberikan pemahaman dikalangan siswi khususnya. Tujuannya agar perempuan bisa melindungi diri dan laki-laki turut melindungi Perempuan, bukan terlibat dalam kekerasan,” demikian dikatakan, Sudaryanto selaku Pelaksana Kegiatan dari Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Lancang Kuning (FIA UNILAK) Pekanbaru.
Lebin lanjut dikatakan, sebelum akhir Tahun 2025 ini lebih dari 13.000 kasus kekerasan terhadap Perempuan. Jenis kekerasan tersebut seperti seksualitas, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), berbasis gender online (Kekerasan Berbasis Gender Online/ KBGO). Perundugan (bullying) dan kekerasan mencakup fisik verbal, siber, seksualitas dan tawuran tidak hanya di Tingkat SMA sederajat tapi juga SD dan SMP termasuk perguruan tinggi (mahasiswa). Dampaknya merusak mental, emosional, hingga berujung kematian.
“Ada korban yang mau melapor, ada yang tidak, ada terjadi di sekolah; koridor, toilet, kantin atau lainnya. Idealnya harus melapor dan dinasehati supaya kuat, sabar dan Ikhlas menjalani ujian. Sebab kalau tidak melapor dikhawatirkan akan terulang kembali. Kesalahan menjadi kebiasaan dan kebiasaan menjadi pembenaran dalam kehidupan melakukan kekerasan terhadap perempuan dengan berbagai dalih apapun. Hal ini yang harus diantisipasi,” ujar Sudaryanto.
Dalam pengabdian ini juga dilakukan diskusi dengan siswa-siswi SMA Setia Dharma Pekanbaru didampingi guru. Dijelaskan, perundungan siber termasuk di dalamnya dalam bentuk media sosial; Instagram, WhatsApp, face book. Perundungan fisik dalam bentuk dorongan, pukulan, penganiayaan termasuk tawuran/ perkelahian. Hal lainnya adalah kekerasan seksualitas.
“Penganiayaan, pengucilan, penolakan, penghinaan, penyebaran rumor, mengejek, intimidasi, kekerasan fisik, mental dan seksualitas harus dicegah, kalau terjadi dihentikan. Kasihan juga ada siswi yang depresi, trauma, prestasi menurun, terluka dan lainnya. Kita semua perlu terlibat mencegah terjadi kekerasan terhadap perempuan, lihat saja diri kita sendiri, saudara, orang tua, orang lain lainnya. Banyak hal yang bisa dilakukan,” papar Sudaryanto.
Kepala SMA Setia Dharma Pekanbaru, Rina Juita, S.Pd menyambut baik kegiatan pengabdian ini. Siswa-siswi tidak hanya berpikir bagaimana meraih masa depan dengan melanjutkan pendidikan atau kuliah, kerja tapi juga perlu menjaga diri setiap waktu, dimana dan kapan saja.
“Kita bersyukur atas kegiatan ini karena semakin menjalin hubungan yang baik antara Universitas Lancang Kuning Pekanbaru khusus Fakultas Ilmu Administrasi dengan SAM Setia Dharma Pekanbaru. Banyak informasi, pengetahuan yang diperoleh, tidak hanya berkaitan dengan belajar tapi juga perilaku diri,” ujar Rina.